Rabu, 09 November 2011

Tugas Metode Riset Jurnal sendiri Bab 5 Penutup

BAB IV
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN  
Metode CAMEL dapat digunakan sebagai alat untuk menilai dan mengelompokan kinerja perbankan, baik yang sehat maupun tidak sehat. Dengan metode CAMEL pula dapat segera diketahui bank-bank mana yang memerlukan penanganan khusus, sehingga dapat segera diketahui langkah perbaikan, sehingga bank-bank dapat bersaing dengan cara yang sehat dalam persaingan perbankan nasional.
        Berdasarkan hasil penilaian ROA merupakan faktor yang paling dominan dalam menjelaskan status tingkat kesehatan perbankan di Indonesia, dimana ROA merupakan suatu ukuran yang digunakan untuk meihat tingkat profitabilitas perusahaan. Faktor dominan berikutnya adalah CAR, dimana CAR menunjukan tingkat pemodalan yang dimiliki oleh suatu bank. Faktor dominan terakhir adalah RORA, hal ini menunjukan fakta bahwa ketersediaan aktiva produktif sangat berpengaruh dalam kegiatan operational perbankan terutama dalam menghasilkan uang, sedangkan ketiga variable yang lain yaitu managemen, BOPO, dan LDR tidak mampu membedakan status tingkat kesehatan bank

5.2 SARAN
           Saran-saran yang dapat diajukan sehubungan dengan hasil penelitian ini, antara lain :
1. Bagi pihak managemen bank untuk selalu menjaga kesehatan keuangan banknya dengan memperhatikan kondisi yang ada, sehingga kesulitan yang timbul dapat diketahui sedini mungkin agar dapat menentukan arah kebijaksanaan yang lebih baik
2. Bagi investor diharapkan dalam proses pengambilan keputusan, untuk menanam modal atau menyimpan dana terlebih dahulu harus memperhatikan rasio-rasio yang dominan berpengaruh terhadap kesehatan bank, sehingga dapat diketahui bagaimana kinerja dari bank tersebut agar dapat diketahui bagaimana kinerja dari bank tersebut agar dapat terhindar dari kerugian pada masa yang akan dating.



daftar tugas metode riset :
reviewjurnal1
reviewjurnal2
reviewjurnal3
analisisjurnal1
analisisjurnal2
analisisjurnal3
jurnalsendiribab1
jurnalsendiribab2
jurnalsendiribab3
jurnalsendiribab4
jurnalsendiribab5

pemberi tugas: Bapak Prihantoro

Selasa, 08 November 2011

Tugas Metode Riset Jurnal sendiri Bab 4 Hasil dan pembahasan

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

Penilaian Kesehatan Bank

Penilaian untuk menentukan kondisi suatu bank dilakukan dengan menggunakan analisis CAMELS, yaitu sebagai berikut:

1. Capital (Permodalan)

Salah satu cara penilaian adalah dengan metode CAR (capital Adequacy Ratio), yaitu dengan cara membandingkan modal terhadap aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR).
Perhitungan CAR sesuai degan standar bank Indonesia adalah sebagai berikut:
CAR = JUMLAH MODAL/JUMLAH ATMR X 1OO%
ATMR (Aktiva Tertimbang Menurut Resiko) merupakan penjumlahan aktiva neraca dan aktiva administrasi. ATMR aktiva neraca diperoleh dengan cara mengalikan nilai nominal aktiva yang bersangkutan dengan bobot resikonya. Sedangkan ATMR aktiva administrasi diperoleh dengan cara mengalikan nilai nominal aktiva rekening admininstrasi yang brsangkutan dengan bobot resikonya.
        Kemudian dihitung angka kredit dengan cara sebagai berikut :
1. CAR = 0 atau negative, angka kredit = 0
2. Setiap kenaikan 0,1% angka kredit ditambah 1 dengan maksimum 100.

2. Asset (Kualitas Aset)

Penilaian didasarkan kepada kualitas aktiva yang dimiliki bank. Rasio yang diukur ada dua macam, yaitu:

1. Rasio aktiva produktif yang diklasifikasikan terhadap aktiva produktif.
2. Rasio penyisihan penghapusan aktiva produktif terhadap aktiva produktif yang diklasifikasikan.
Adapun metode penilaiannya dapat dilakukan dengan cara :
RORA = EARNING BEFORE TAX/TOTAL LOANS+SECURITIES



3. Management (Manajemen)

Kualitas manajemen dapat dilihat dari kualitas manusianya dalam bekerja. Kualitas manajemen juga dilihat dari segi pendidikan dan pengalaman karyawannyadalam menangani berbagai kasus yang terjadi. Dalam aspek ini, yang dinilai adalah manajemen permodalan, manajemen kualitas aktiva, manajemen umum, manajemen rentabilitas dan manajemen likuiditas. Penilaian kesehatan di bidang manajemen sekarang hanya didasarkan pada 100 aspek saja.
Untuk menilai kesehatan bank dalam aspek manajemen ini, biasanya dilakukan mealui kruesioner yang ditujukan bagi pihak manajemen bank.

1. Earning (Rentabilitas)

Penilaian didasarkan pada rentabilitas suatu bank yang dilihat kemampuan suatu bank dalam menciptakan laba. Penilaian dalam unsur ini didasarkan kepada dua macam, yaitu:

1. Rasio laba terdapat total asset (Return On Assets)
Dapat di hitung dengan rumus :
ROA = LABA SEBELUM PAJAK/TOTAL AKTIVA X 100%

Perhitungan angka kredit dapat dilakukan sebagai berikut :
1. ROA sebesar 10% atau lebih, nilai kredit = 0
2. Setiap kenaikan 0,015% angka kredit ditambah 1 dengan maksimum 100

2. Rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO)
Dapat dihitung dengan rumus :
1. Rasio sebesar 100% atau lebih, nilai kredit = 0
2. Setiap penurunan 0,08% angka kredit ditambah 1 dengan maksimum 100

3. Liquidity
Pada aspek likuiditas ini penilaian didasarkan atas kemampuan bank dalam membayar semua hutang-hutangnya terutama simpanan tabungan, giro dan deposito pada saat ditagih dan dapat memenuhi semua permohonan kredit yang layak untuk disetujui.
Untuk menjamin likuiditas dihitung loan to deposit ratio (LDR), yang besarnya dapat dihitung dengan rumus :
LDR = JUMLAH KREDIT YANG DIBERIKAN/DANA MASYARAKAT+MODAL X 100%

Angka kredit LDR dapat dihitung sebagai berikut :
1. Rasio LDR sebesar 110% atau lebih, nilai kredit = 0
1. Rasio LDR di bawah 110%  nilai kredit = 100

        Menurut ketentuan SK DIR BI No. 30/11/KEP/DIR tanggal 30 april 1997, jika digunakan kelima faktor CAMEL dalam penilaian kesehatan bank maka prosentase setiap faktor CAMEL tersebut adalah sebagai berikut :

FORMULA CAMEL
Faktor yang dinilai
Komponen
Bobot
Permodalan
Rasio modal terhadap aktiva tertimbang menurut resiko (ATMR)
25%
Kualitas Aktuva Produktif
a. rasio aktiva produktif yang diklasifikasikan terhadap jumlah aktiva produktif
b. Rasio cadangan penghapusan aktiva terhadap jumlah aktiva yang diklarifikasi
25%


5%
Manajemen
a. manajemen umum
b. manajemen resiko
10%
15%
Rentabilitas
a. rasio laba terhadap rata-rata volume
b. rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional
5%

5%
Likuiditas
a. rasio kewajiban bersih call money terhadap aktiva lancer
b. rasio pinjaman terhadap dana pihak ketiga
5%

5%

        Jumlah bobot untuk kelima faktor tersebut adalah 100%. Apabila pada saat pemeriksaan semua faktor di nilai baik atau positif maka akan mendapat Nilai Kredit Faktor Camel” maksimal sebesar 100, berarti tingkat kesehatan bank berada pada predikat “sehat”. Nilai kredit untuk menentukan predikat kesehatan bank, ditetapkan sebagai berikut :

Nilai Kredit dan Predikat Tingkat Kesehatan Bank
Nilai kredit

81 - 100
Sehat
66 - <81
Cukup sehat
51 - <66
Kurang sehat
0 - <51
Tidak sehat


Menurut Surat Edaran Bank Indonesia No.30/2/UPPB tanggal 30 April 1997, beberapa pelaksanaan yang mempengaruhi Tingkat Kesehatan adalah:

1. Kredit Eksport (KE) dan Kredit Usaha Kecil (KUK)

Pelanggaran tidak dikaitkan dengan Tingkat Kesehatan.

1. Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK)

* Bila tidak melanggar tidak ada Nilai Kredit (NK)
* Pelanggaran dikenakan pengurangan Nilai Kredit (NK) 5, ditambah
* Setiap pelanggaran 1% Nilai Kredit (NK) dikurangi lagi 0,05, maksimum 10 Nilai Kredit (NK).

1. Posisi Devisa Netto (PDN)

* Bila tidak melanggar tidak ada NK.
* Setiap pelanggaran 15 Nilai Kredit (NK) dikurangi 0,05, maksimum 5 Nilai Kredit (NK).

Selain ketentuan diatas, masih ada faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi Tingkat Kesehatan Bank, yaitu:


1. Perselisihan intern yang diperkirakan akan menimbulkan kesulitan dalam bank yang bersangkutan.
2. Campur tangan pihak-pihak diluar bank dalam kepengurusan (manajemen) bank, termasuk di dalamnya kerjasama yang tidak wajar yang mengakibatkan salah satu atau beberapa kantornya berdiri sendiri.
3. “Window Dressing” dalam pembuktuan dan atau laporan bank yang secara materiil dapat berpengaruh terhadap keadaan keuangan bank sehingga mengakibatkan penilaian yang keliru terhadap bank.
4. Praktek “bank dalam bank” atau melakukan usaha bank di luar pembukuan bank.
5. Kesulitan keuangan yang mengakibatkan penghentian sementara atau pengunduran diri dari keikutsertaan dalam kliring.
6. Praktek perbankan lain yang dapat membahayakan kelangsungan usaha bank dan menurunkan kesehatan bank.

Tugas Metode Riset Jurnal sendiri Bab 3 Metodologi Penelitian

                                                                    BAB 3
                                                           Metodologi Penelitian

Data yang digunakan dalam tulisan ini bersumber dari publikasi Badan Pusat Statistik, Bank Indonesia. Sementara alat analisis yang dipakai adalah bersifat deskriptif. Studi kepustakaan, baik yang berasal dari buku teks maupun jurnal/majalah merupakan sumber yang sangat penting, begitu pula diskusi dengan teman seprofesi guna mempertajam analisisnya. 

TUGAS METODE RISET Jurnal Sendiri Bab 2 Landasan Teori

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Bank
Definisi Bank

Bank secara sederhana dapat diartikan sebagai lembaga keuangan yang kegiatan utamanya adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali dana tersebut ke masyarakat dan menyalurkannya kembali dana tersebut ke masyarakat serta memberikan jasa Bank lainnya. Jika di tinjau dari asal mula terjadinya bank, maka pengertian bank adalah meja atau tempat untuk menukarkan uang.

Kemudian pengertian bank menurut Undang-undang RI Nomor 10 Tahun 1998 tanggal 10 November 1998 tentang Perbankan adalah Badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat iopdalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

Jadi dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa usaha perbankan meliputi tiga kegiatan utama, yaitu:

1. Menghimpun dana
2. Menyalurkan dana
3. Memberikan jasa bank lainnya

Kegiatan menghimpun dan menyalurkan dana merupakan kegiatan pokok perbankan, sedangkan kegiatan memberikan jasa-jasa bank lainnya hanyalah merupakan pendukung dari kedua kegiatan diatas.

2.2 Jenis-jenis Bank

1. Dilihat dari Segi Fungsinya

Dalam Undang-Undang Pokok Perbankan Nomor 7 Tahun 1992 dan ditegaskan lagi dengan keluarnya Undang-Undang RI Nomor 10 tahun 1998, maka jenis perbankan terdiri dari dua jenis bank yaitu:

1. Bank Umum

Pengertian bank umum sesuai dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lampu lalu lintas pembayaran. Bank umum sering disebut juga bank komersil (commercial bank).

2. Bank Perkreditan Rakyat (BPR)

Pengertian BPR menurut Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998 adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.

2. Dilihat dari Segi Kepemilikannya
1. Bank milik pemerintah

Dimana baik akta pendirian maupun modalnya dimiliki oleh pemerintah, sehingga seluruh keuntungan bank ini dimiliki oleh pemerintah pula. Contohnya antara lain: Bank Negara Indonesia 46 (BNI), Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Tabungan Negara (BTN), Bank Mandiri.

2. Bank milik swasta nasional

Merupakan bank yang seluruh atau sebagian besarnya dimiliki oleh swasta nasional serta akta pendiriannya pun didirikan oleh swasta, begitu pula pembagian keuntungan diambil oleh swasta pula. Contonya antara lain: Bank Bumi Putera, Bank Bukopin, Bank Central Asia, Bank Danamon, Bank Internasional Indonesia, Bank Lippo, Bank Muamalat dan bank swasta lainnya.

3. Bank milik asing

Merupakan cabang dari bank yang ada diluar negeri, baik milik swasta asing maupun pemerintah asing suatu negara. Contohnya antara lain: ABN AMRO Bank, American Express Bank, Bank of America, Bangkok Bank, Bank of Tokyo, City Bank, Chase Manhattan Bank, Deutsche Bank, European Asian Bank, Hongkong Bank, Standard Chartered Bank, Bank Asing lainnya.
4. Bank milik campuran

Merupakan bank yang kepemilikan sahamnya dimiliki oleh pihak asing dan pihak swasta nasional. Dimana kepemilikan sahamnya secara mayoritas dipegang oleh warga negara Indonesia. Contohnya antara lain: Bank finconesia, Bank Merincorp, Bank PDFCI, Bank Sakura Swadarma dan Bank Campuran lainnya.

3. Dilihat dari Segi Statusnya
1. Bank devisa

Merupakan bank yang dapat melaksanakan transaksi ke luar negeri atau yang berhubungan dengan mata uang asing secara keseluruhan, misalnya transfer ke luar negeri, inkaso ke luar negeri, travelers cheque, pembukaan dan pembayaran Letter of Credit (L/C), dan transaksi luar negeri lainnya.

2. Bank non devisa

Merupakan bank yang belum mempunyaiizin untuk melaksanakan transaksi sebagai bank devisa, sehingga tidak dapat melaksanakan transaksi seperti halnya bank devisa.

4. Dilihat dari Segi Cara Menentukan Harga

Jenis bank jika dilihat dari segi atau caranya dalam menentukan harga baik harga jual maupun harga beli terbagi menjadi dua kelompok, yaitu:

1. Bank yang berdasarkan prinsip konvensional

Dalam mencari keuntungan dan menentukan harga kepada para nasabahnya bank yang berdasarkan prinsip konvensional menggunakan dua metode, yaitu:

2. Menetapkan bunga sebagai harga jual, baik untuk produk simpanan seperti giro, tabungan maupun deposito. Demikian pula harga beli untuk produk pinjamannya (kredit) juga ditentukan berdasarkan tingkat suku bunga tertentu. Penentuan harga ini dikenal dengan istilah spread based.
3. Untuk jasa-jasa bank lainnya pihak perbankan konvensional menggunakan atau menerapkan berbagai biaya-biaya dalam nominal atau presentase tertentu seperti biaya administrasi biaya provisi, sewa, iuran dan biaya-biaya lainnya. System ini dikenal dengan istilah fee based.
4. Bank yang berdasarkan prinsip syariah

Bank berdasarkan prinsip syariah menerapkan aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank dengan pihak lain baik dalam hal untuk menyimpan dana atau pembiayaan usaha atau kegiatan perbankan lainnya. Penentuan harga atau mencari keuntungan bagi bank yang berdasarkan prinsip syariah adalah dengan cara:

1. Pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (mudharabah)
2. Penbiayaan berdasarkan prinsip penyertaan modal (musharakah)
3. Prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan (murabahah)
4. Pembiayaan barang modal berdasarkan sewa murni tanpa pilihan (ijarah)
5. Atau dengan adanya pilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa dari pihak bankoleh pihak lain (ijarah wa iqtina).

Bank berdasarkan prinsip syariah mengharamkan penggunaan harga produknya dengan bunga tertentu.

2.3 Definisi Laporan Keuangan

Laporan keuangan yaitu laporan semua kegiatan keuangan selama periode tertentu. Laporan keuangan bertujuan untuk memberikan informasi keuangan perusahaan, baik kepada pemilik, manajemen, maupun pihak luar yang berkepentingan terhadap laporan tersebut.

Laporan keuangan bank menunjukkan kondisi keuangan bank secara keseluruhan. Dari laporan ini akan terbaca bagaimana kondisi bank yang sesungguhnya, termasuk kelemahan dan kekuatan yang dimiliki. Laporan ini juga menunjukkan kinerja manajemen bank selama selama satu periode. Keuntungan dengan membaca laporan ini pihak manajemen dapat memperbaiki kelemahan yang ada serta mempertahankan kekuatan yang dimilikinya.



Jenis-jenis laporan keuangan:

1. Neraca
2. Laporan komitmen dan kontinjensi
3. Laporan laba rugi
4. Laporan arus kas
5. Catatan atas laporan keuangan
6. Laporan keuangan gabungan dan konsolidasi


2.4 Kinerja Bank

        Sebagai wujud yang dicapai perusahaan dalam periode waktu usaha, tidak lepas dari kinerja yang dilakukan pihak bank. Apabila kinerja bank bagus, akan menghasilkan prestasi kerja yang bagus pula, begitu juga sebaliknya. Menurut Amin kinerja adalah :
Hasil nyata yang dicapai, kadang-kadang dipergunakannya untuk menunjukan dicapainya hasil  yang positif. Kinerja bank dapat diketahui melalui penilaian tentang tingkat kesehatan bank, yang standarnya telah ditentukan oleh bank Indonesia.

        Penilaian prestasi dan kondisi keuangan pada suatu perusahan membutuhkan ukuran-ukuran tertentu, yang biasanya digunakan analisis rasio untuk menunjukan antara dua data keuangan. Rasio-rasio keuangan ini harus dihubungkan dengan beberapa standar, salah satunya melalui pola historis perusahaan untuk sejumlah tahun dalam menentukan perusahaan membaik atau memburuk.
       
 Kinerja menunjukan sesuatu yang berhubungan dengan kekuatan dan kelemahan perusahaan. Kekuatan tersebut dipahami agar dapat dimanfaatkan dan kelemahan perusahaan. Kekuatan tersebbut dipahami agar dapat dilakukan langkah-langkah perbaikan.

Tugas Metode Riset Jurnal sendiri Bab 1 Pendahuluan

                                                                          BAB 1
                                                                PENDAHULUAN

                                               
                                             PENILAIAN TINGKAT KESEHATAN BANK

1.1 Latar Belakang 

Bank merupakan suatu lembaga keuangan yang berfungsi sebagai perantara dalam menyalurkan dana dari pihak yang kelebihan dan (surplus) kepada pihak yang membutuhkan dan kekurangan dana (unit defisit) jadi bank merupakan lembaga intermediary atau perantara penyalur dana. 

Bank juga merupakan alternatif pilihan masyarakat dalam menyimpan uangnya karena bank merupakan tempat yang aman dan terpercaya sebagai lembaga yang menyediakan fasilitas yang memadai dalam pengelolaan dan penempatan dana. 

Oleh karena itu, diperlukan faktor ‘kepercayaan’ dari masyarakat, karena banyaknya bank yang dilikuidasi membuat masyarakat harus cermat dalam memilih bank yang akan dijadikan tempat untuk menyimpan uang karena tingkat kesehatan bank merupakan faktor utama para nasabah. 

Berdasarkan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No.6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4382) Bank wajib melakukan Penilaian Tingkat Kesehatan Bank secara triwulanan.

Untuk mengetahui tingkat kesehatan bank dapat dilihat menggunakan 5 aspek penilaian yang disebut CAMEL, yang meliputi Capital, Assets, Management, Earnings dan Liquidity. Penilaian CAMEL ini dimaksudkan untuk mengukur apakah manajemen bank telah melaksanakan system perbankan dengan asas-asas yang sehat, dimana rasio keuangan tertentu berperan penting dalam evaluasi kinerja keuangan serta dapat digunakan untuk memprediksi kelangsungan usaha baik yang sehat maupun tidak sehat. CAMEL tidak sekedar mengukur kesehatan tingkat kesehatan suatu bank, tetapi sering pula digunakan sebagai indicator dalam menyusun peringkat dan memprediksi prospek suatu bank di masa datang. 

Selanjutnya hasil dari analisis CAMELS tersebut dapat digolongkan menjadi empat kategori yaitu sehat, cukup sehat, kurang sehat dan tidak sehat.



1.2 Rumusan Masalah 

Masalah yang akan dibahas dalam penulisan ilmiah ini adalah bagaimana metode atau cara yang tepat dalam menentukan kesehatan bank, lebih memusatkan dengan cara perhitungan CAMEL. 

1.3 Batasan Masalah 

Untuk mendapatkan arah pembatasan yang lebih baik untuk mencapai tujuan yang diinginkan, maka penulis membatasi hal ini dengan menggunakan analisa CAMEL, tetapi hanya di fokus kan pada ketentuan kriteria bank sehat, dan rumus-rumus CAMEL tanpa di sertaii contoh khasus.



1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui cara-cara untuk melakukan perhitungan kesehatan bank dengan metode CAMEL yang meliputi Capital, Asset, Managemen, Earnings, Liquidity

1.5 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, yaitu :

Manfaat dari penelitian ini bagi berbagai pihak adalah untuk menambah pengetahuan khususnya tentang penilaian tingkat kesehatan bank. Untuk masyarakat pada umunya untuk menambah wawasan tentang cara perhitungan kesehatan bank sebagai bekal untuk menilai sendiri kelangsungan sebuah bank yang akan di pilihnya

analisa jurnal 3

Judul: ANALISIS TINGKAT KESEHATAN  PT. BANK AGRONIAGA (TBK) DENGAN MENGGUNAKAN METODE CAMELS
Pengarang: Farhani
Tema: Analisa Kesehatan Bank dengan Metode CAMEL

Latar belakang masalah

    Kesehatan satu bank merupakan kepentingan semua pihak yang terkait, baik pemilik, pengelola bank, masyarakat sebagai pengguna jasa bank, dan Bank Indonesia selaku otoritas pengawas bank. 
Berdasarkan Pasal 29 Undang-Undang No.10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas 
Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, antara lain menetapkan ; 
1. Pembinaan dan pengawasan bank dilakukan oleh Bank Indonesia. 
2. Bank wajib memelihara tingkat kesehatan bank sesuai dengan ketentuan kecukupan modal, kualitas aset, kualitas manajemen, likuiditas, rentabilitas, solvabilitas dan aspek lain yang berhubungan dengan usaha bank, dan wajib melakukan kegiatan usaha sesuai dengan prinsip kehati-hatian. 
   Mengingat pesatnya perkembangan sektor perbankan dan perubahan kompleksitas usaha serta profil risiko bank, dan juga adanya perubahan metodologi dalam penilaian kondisi bank yang diterapkan secara internasional, maka Bank Indonesia telah mengeluarkan peraturan baru perihal Tata Cara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum yang menggunakan metode CAMELS melalui Peraturan Bank Indonesia No.6/10/PBI/2004 dengan peraturan pelaksanaan Surat Edaran Bank Indonesia No.6/23/DPNP tgl. 31 Mei 
2004, yang mulai diterapkan sejak posisi bulan Desember 2004. 
   Penilaian Tingkat Kesehatan Bank penting, karena hal ini sekaligus menunjukkan bagaimana kondisi kinerja keuangan dan prestasi bank dalam menjalankan usahanya dan dalam meraih kepercayaan masyarakat. 
   Berdasarkan pada uraian tersebut diatas, maka penulis tertarik mengambil topik untuk bahan penelitian dengan judul “Analisis Tingkat Kesehatan PT. Bank Agroniaga (Tbk) Dengan Menggunakan Metode CAMELS”

Masalah:

Bagaimana kondisi Tingkat Kesehatan PT. Bank Agroniaga, Tbk selama periode tahun 2005 - 2008 dengan menggunakan metode CAMELS?

Tujuan Penelitian:

 Untuk mengetahui tingkat kesehatan PT. Bank Agroniaga, Tbk selama periode tahun 2005 - 2008 dengan menggunakan metode CAMELS


Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan nantinya bermanfaat bagi kalangan akademisi maupun perusahaan perbankan dalam rangka melakukan penilaian tingkat kesehatan bank

Metodologi Penelitian


    Sehubungan dengan dikeluarkannya ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004 dan Surat Edaran Bank Indonesia. No.6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum (CAMELS Rating). Metode CAMELS merupakan hasil penilaian kualitatif atas berbagai aspek yang berpengaruh terhadap kondisi atau kinerja suatu bank melalui penilaian faktor permodalan, kualitas aset, manajemen, rentabilitas, likuiditas, dan sensitivitas terhadap risiko pasar. Penilaian terhadap faktor-faktor tersebut dilakukan melalui penilaian kuantitatif dan atau kualitatif setelah mempertimbangkan unsur judgement yang didasarkan atas materialitis dan signifikansi dari faktor-faktor penilaian serta pengaruh dari faktor lainnya seperti kondisi industri perbankan dan perekonomian nasional. 
    Penilaian  dan penetapan Peringkat faktor CAMELS dilakukan berdasarkan hasil penilaian terhadap komponen-komponen dalam faktor CAMELS. Berdasarkan hasil penilaian dan Penetapan Peringkat faktor CAMELS tersebut ditetapkanlah Peringkat Komposit yang merupakan peringkat akhir hasil penilaian Tingkat Kesehatan Bank

Implikasi
   Untuk dapat tetap menjaga dan meningkatkan kesehatan Bank, maka manajemen PT. Bank Agroniaga, Tbk perlu melakukan langkah-langkah korektif terhadap kebijakan sistem audit intern, yaitu dengan melakukan perubahan pendekatan pemeriksaan dari yang mengedepankan Compliance Base menjadi Risk Base. Sedangkan untuk memperbaiki kinerja operasional Aktiva Produktif Kredit, Bank perlu lebih selektif dalam pemberian kredit dengan memperhatikan perkembangan ekonomi makro dan objek yang dibiayai. Hal ini mengingat sebagian besar kredit Bank disalurkan di sektor pertanian yang rentan terhadap faktor eksternal termasuk faktor alam.  Selain itu, pengawasan/pemantauan terhadap usaha debitur perlu lebih ditingkatkan agar secara lebih dini Bank dapat mengendalikan dan mengantisipasi kemungkinan timbulnya kredit bermasalah yang berdampak mempengaruhi kondisi
Bank.
 . Manajemen dan atau pemilik Bank perlu lebih memperhatikan perbaikan permodalan Bank terutama yang bersumber dari laba Bank guna lebih  meningkatkan ekses modal agar mampu mengcover kemun

Sumber: http://www.gunadarma.ac.id/library/articles/graduate/economy/2009/Artikel_20203401.pdf


Analisa Jurnal 2

Judul: ANALISIS PENILAIAN TINGKAT KESEHATAN BANK BERDASARKAN METODE CAMEL
PADA PD. BPR BKK TASIKMADU  CABANG KARANGPANDAN
Pengarang:
Tema: Analisa Kesehatan Bank dengan Metode CAMEL

Latar belakang masalah


    Akhir-akhir ini istilah bank sehat  atau tidak sehat semakin populer. Berbagai kejadian aktual, tentang perbankan seperti merger dan likuidasi selalu dikaitkan dengan kesehatan bank tadi. Olehkarenanya sebuah bank tentunya memerlukan suatu analisis untuk mengetahui kondisinya setelah melakukan kegiatan operasionalnya dalam jangka waktu tertentu. Analisis yang dilakukan disini berupa penilaian tingkat kesehatan bank. Kesehatan suatu bank adalah kemampuan suatu bank untuk melakukan kegiatan operasional perbankan secara normal dan mampu memenuhi semua kewajibannya dengan baik dengan cara-cara yang sesuai dengan peraturan perbankan yang berlaku. 

    Penelitian-penelitian terdahulu  mengenai tingkat kesehatan bank dilakukan secara empiris oleh beberapa peneliti diantaranya Indupurnahayu dan Deni Satria ( pada Bank Mandiri Tbk, tahun 2003-2004), Surifah (1990), Abdul Mongid (2000), Wilopo (2000),  Titik Aryati dan Hekinus Manao (2000), dll. Mereka melakukan penelitian terhadap kekuatan rasio keuangan model CAMEL untuk membedakan bank yang sehat dan bank yang tidak sehat serta penggunaannya sebagai alat prediksi kegagalan bank

   Seperti yang telah diuraikan  diatas bahwa usaha bank adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali pada masyarakat ini disebut dengan “Financial Intermediary“. Jadi bank benar-benar
mampu menjaga kepercayaan masyarakat baik dalam kegiatan operasional
maupaun pelayanan jasanya. Dalam rangka menuju perbankan yang sehat  dan efisien BKK sebagai salah satu perusahaan perbankan perlu segera menyesuikan diri di era deregulasi dengan menciptakan profesionalitas serta persaingan yang sehat tanpa meninggalkan rasa tanggungjawab dalam mengutamakan kepentingan masyarakat. Adapun keberadaan Bank Perkreditan Rakyat adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam bidang keuangan dengan ketentuan-ketentuan yang lebih mudah dibandingkan dengan
perusahaan perbankan.
    Dalam rangka menuju perbankan yang sehat, PD.BPR.BKK Tasikmadu Cabang Karangpandan sebagai salah satu  bank yang sampai sekarang masih eksis didalam dunia perbankan di Indonesia perlu melakukan penyesuaian diri dan menciptakan tenaga-tenaga profesional dalam persaingan yang sehat.
    Dan untuk ketentuan-ketentuan yang dilandasi oleh kewenangan untuk mengatur perbankan khususnya BPR dimaksudkan untuk memberikan pedoman kepada bank bagaimana melaksanakan kegiatan bank atas dasar azasazas perbankan yang sehat, sehingga bank mampu beroperasi lebih profesional dan efisien.
    Demi menjaga perkembangan usahanya didalam persaingan yang semakin ketat serta menanggapi akan kebutuhan masyarakat, maka pihak 5 manajemen Bank Perkreditan Rakyat berusaha mengelola dana agar
beroperasional dengan baik. Penerapan manajemen Bank Perkreditan Rakyat yang semakin profesional menjadi lebih efektif dan efisien.
    Dari uraian tersebut diatas terlihat bahwa metode CAMEL merupakan salah satu faktor untuk melihat kondisi serta tingkat kesehatan bank, oleh karena itu penulis tertarik untuk mengadakan penelitian mengenai analisis tingkat kesehatan bank dengan menggunakan data laporan keuangan pada PD.BPR.BKK Tasikmadu Cabang Karangpandan. Sehingga dalam penelitian ini penulis mengambil judul “  ANALISIS PENILAIAN TINGKAT KESEHATAN BANK BERDASARKAN METODE CAMEL PADA PD. BPR. BKK TASIKMADU CABANG KARANGPANDAN“



Masalah


    Adanya bank yang dilikuidasi atau dalam kondisi bank yang tidak diperbolehkan beroperasi oleh pemerintah dikarenakan kondisi dan keadaan bank menurut penilaian BI telah membahayakan bagi kepentingan masyarakat dan perekonomian nasional khususnya pada sektor perbankan nasional. 
    Dengan kata lain, bahwa bank yang telah beroperasi atau bahkan dicabut ijin usahanya adalah bank  yang dinyatakan tidak sehat. Sedangkan PD.BPR.BKK Tasikmadu Cabang Karangpandan perlu menerapkan prinsipprinsip kehati-hatian oleh pengelola dan pemecahan masalah segera mungkin sehingga tidak menghambat pada kegiatan lainnya. Perlunya melakukan kajian atas tingkat kesehatan bank yang dilakukan setiap saat agar kekurangan yang didapat segera diatasi serta menentukan arah untuk kemajuan bank. 
   Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka perumusan masalah adalah sebagai berikut : Bagaimana tingkat kesehatan PD.BPR.BKK Tasikmadu Cabang Karangpandan jika dinilai dengan metode CAMEL .

Tujuan penelitian
   Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kesehatan bank pada  PD.BPR.BKK Tasikmadu Cabang Karangpandan kabupaten Karanganyar

Manfaat Penelitian

 Bagi Bank, sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan  kebijaksanaan yang berhubungan dengan kelangsungan hidup usaha bank dari PD.BPR.BKK Tasimadu Cabang Karangpandan. 7
2. Bagi Nasabah, hasil penelitian ini dapat digunakan untuk mempertimbangkan dalam memilih perusahaan perbankan yang akan dituju.
3. Bagi Peneliti, dapat dijadikan  pertimbangan antara teori dengan prakteknya yang diharapkan tidak terjadinya kesenjangan yang terlalu jauh sehingga dapat dijadikan bekal bila kelak terjun ke masyarakat.

Metodologi Penelitian
Dalam penulisan ilmiah ini, penulis menggunakan data primer dan sekunder dalam upaya pengumpulan data dan penulis memperoleh data dari berbagai sumber, diantaranya adalah :

Dari literatur yang berkaitan dengan penulisan ilmiah ini.
Data yang bersumber dari media internet melalui situs resmi Bank yang bersangkutan dan terdiri dari :
Data kuantitatif
Yaitu data yang dinyatakan dengan angka-angka yang berasal dari laporan keuangan bank yang bersangkutan berupa neraca, laporan laba rugi, laporan penhitungan penyediaan modal minimum, dan kualitas aktiva produktif.

Hasil analisis tersebut dapat digunakan sebagai pedoman dalam menganalisis tingkat kesehatan bank dengan menggunakan metode CAMELS

Data kualitatif

Yaitu data yang tidak dinyatakan dengan angka tetapi berupa keterangan yang dapat memberikan gambaran yang berkaitan dengan penulisan ilmiah ini diantaranya adalah sejarah singkat dan visi misi.

Implikasi


1. Bagi pihak managemen bank untuk selalu menjaga kesehatan keuangan banknya dengan memperhatikan kondisi yang ada, sehingga kesulitan yang timbul dapat diketahui sedini mungkin agar dapat menentukan arah kebijaksanaan yang lebih baik

2. Bagi investor diharapkan dalam proses pengambilan keputusan, untuk menanam modal atau menyimpan dana terlebih dahulu harus memperhatikan rasio-rasio yang dominan berpengaruh terhadap kesehatan bank, sehingga dapat diketahui bagaimana kinerja dari bank tersebut agar dapat diketahui bagaimana kinerja dari bank tersebut agar dapat terhindar dari kerugian pada masa yang akan dating.

Analisa Jurnal 1

Judul: ANALISIS KESEHATAN BANK DENGAN METODE CAMELS PADA PT. BANK RAKYAT INDONESIA, TBK.
Pengarang:
Tema: Analisa Kesehatan Bank dengan Metode CAMEL


Latar Belakang masalah

Bank merupakan suatu lembaga keuangan yang berfungsi sebagai perantara dalam menyalurkan dana dari pihak yang kelebihan dan (surplus) kepada pihak yang membutuhkan dan kekurangan dana (unit defisit) jadi bank merupakan lembaga intermediary atau perantara penyalur dana.

Bank juga merupakan alternatif pilihan masyarakat dalam menyimpan uangnya karena bank merupakan tempat yang aman dan terpercaya sebagai lembaga yang menyediakan fasilitas yang memadai dalam pengelolaan dan penempatan dana.

Oleh karena itu, diperlukan faktor ‘kepercayaan’ dari masyarakat, karena banyaknya bank yang dilikuidasi membuat masyarakat harus cermat dalam memilih bank yang akan dijadikan tempat untuk menyimpan uang karena tingkat kesehatan bank merupakan faktor utama para nasabah.

Untuk mengetahui tingkat kesehatan bank dapat dilihat dari laporan keuangan yang dibuat secara periodik oleh bank tersebut. Analisis yang digunakan adalah dengan metode CAMELS.Setelah mengamati masalah yang diatas, maka dalam penulisan ilmiah ini penulis mengambil judul “ANALISIS KESEHATAN BANK DENGAN METODE CAMELS PADA PT. BANK RAKYAT INDONESIA, Tbk.”

Masalah

Masalah yang akan dibahas dalam penulisan ilmiah ini adalah bagaimana tingkat kesehatan bank yang diukur menggunakan metode CAMELS yang meliputi penilaian berdasarkan Capital (modal), Assets (Aktiva), Management, Earnings (rentabilitas), Likuiditas, dan Sensitivity to Market Risk (sensitivitas pada resiko pasar) pada Bank Rakyat Indonesia, Tbk

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui tingkat kesehatan pada Bank Rakyat Indonesia dengan melihatnya dari segi Capital (permodalan), Assets (kualitas Aktiva Produktif), Management, Earnings (rentabilitas), Likuiditas, dan Sensitivity to Market Risk (Sensitivitas terhadap Resiko Pasar)

Sumber: http://yaumilshasa.blogspot.com/2010/05/analisis-kesehatan-bank-dengan-metode.html

Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, yaitu :

Bagi penulis
Untuk mengetahui seberapa jauh ilmu yang diperoleh selama perkuliahan berlangsung dan seberapa jauh penulis dapat memecahkan suatu permasalahan.

Bagi perusahaan
Untuk memberikan masukan bagi perusahaan dalam mengambil keputusan yang lebih baik dalam pengelolaan dan efektivitas kinerja Bank yang bersangkutan serta untuk mempertahankan atau memperbaiki kinerja bank agar lebih baik lagi

Bagi pihak lain
Sebagai bahan acuan bagi penulis lainnya dalam melakukan penelitian berkaitan dengan tingkat kesehatan bank dengan metode CAMELS

 Metodelogi Penelitian

Objek Penelitian

Penulis mengambil objek penelitian terhadap PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dalam menganalisis tingkat kesehatan bank menggunakan metode CAMELS.

Data/Variabel

Dalam penulisan ilmiah ini penulis menggunakan data sekunder berupa laporan keuangan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk yang terdiri dari:

Laporan Neraca
Laporan Laba-Rugi
Perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM)
Kualitas Aktiva Produktif

Implikasi



Saran-saran yang dapat diajukan sehubungan dengan hasil penelitian ini, antara lain :

1. Bagi pihak managemen bank untuk selalu menjaga kesehatan keuangan banknya dengan memperhatikan kondisi yang ada, sehingga kesulitan yang timbul dapat diketahui sedini mungkin agar dapat menentukan arah kebijaksanaan yang lebih baik

2. Bagi investor diharapkan dalam proses pengambilan keputusan, untuk menanam modal atau menyimpan dana terlebih dahulu harus memperhatikan rasio-rasio yang dominan berpengaruh terhadap kesehatan bank, sehingga dapat diketahui bagaimana kinerja dari bank tersebut agar dapat diketahui bagaimana kinerja dari bank tersebut agar dapat terhindar dari kerugian pada masa yang akan dating.

Review Jurnal 3

Judul: ANALISIS TINGKAT KESEHATAN  PT. BANK AGRONIAGA (TBK) DENGAN MENGGUNAKAN METODE CAMELS
Pengarang: Farhani
Tema: Analisa Kesehatan Bank dengan Metode CAMEL

Latar belakang masalah


    Kesehatan satu bank merupakan kepentingan semua pihak yang terkait, baik pemilik, pengelola bank, masyarakat sebagai pengguna jasa bank, dan Bank Indonesia selaku otoritas pengawas bank. 
Berdasarkan Pasal 29 Undang-Undang No.10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas 
Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, antara lain menetapkan ; 
1. Pembinaan dan pengawasan bank dilakukan oleh Bank Indonesia. 
2. Bank wajib memelihara tingkat kesehatan bank sesuai dengan ketentuan kecukupan modal, kualitas aset, kualitas manajemen, likuiditas, rentabilitas, solvabilitas dan aspek lain yang berhubungan dengan usaha bank, dan wajib melakukan kegiatan usaha sesuai dengan prinsip kehati-hatian. 
   Mengingat pesatnya perkembangan sektor perbankan dan perubahan kompleksitas usaha serta profil risiko bank, dan juga adanya perubahan metodologi dalam penilaian kondisi bank yang diterapkan secara internasional, maka Bank Indonesia telah mengeluarkan peraturan baru perihal Tata Cara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum yang menggunakan metode CAMELS melalui Peraturan Bank Indonesia No.6/10/PBI/2004 dengan peraturan pelaksanaan Surat Edaran Bank Indonesia No.6/23/DPNP tgl. 31 Mei 
2004, yang mulai diterapkan sejak posisi bulan Desember 2004. 
   Penilaian Tingkat Kesehatan Bank penting, karena hal ini sekaligus menunjukkan bagaimana kondisi kinerja keuangan dan prestasi bank dalam menjalankan usahanya dan dalam meraih kepercayaan masyarakat. 
   Berdasarkan pada uraian tersebut diatas, maka penulis tertarik mengambil topik untuk bahan penelitian dengan judul “Analisis Tingkat Kesehatan PT. Bank Agroniaga (Tbk) Dengan Menggunakan Metode CAMELS”

Masalah:

Bagaimana kondisi Tingkat Kesehatan PT. Bank Agroniaga, Tbk selama periode tahun 2005 - 2008 dengan menggunakan metode CAMELS?

Tujuan Penelitian:

 Untuk mengetahui tingkat kesehatan PT. Bank Agroniaga, Tbk selama periode tahun 2005 - 2008 dengan menggunakan metode CAMELS

Sumber: http://www.gunadarma.ac.id/library/articles/graduate/economy/2009/Artikel_20203401.pdf

Review Jurnal 2

Judul: ANALISIS PENILAIAN TINGKAT KESEHATAN BANK BERDASARKAN METODE CAMEL
PADA PD. BPR BKK TASIKMADU  CABANG KARANGPANDAN
Pengarang:
Tema: Analisa Kesehatan Bank dengan Metode CAMEL

Latar belakang masalah


    Akhir-akhir ini istilah bank sehat  atau tidak sehat semakin populer. Berbagai kejadian aktual, tentang perbankan seperti merger dan likuidasi selalu dikaitkan dengan kesehatan bank tadi. Olehkarenanya sebuah bank tentunya memerlukan suatu analisis untuk mengetahui kondisinya setelah melakukan kegiatan operasionalnya dalam jangka waktu tertentu. Analisis yang dilakukan disini berupa penilaian tingkat kesehatan bank. Kesehatan suatu bank adalah kemampuan suatu bank untuk melakukan kegiatan operasional perbankan secara normal dan mampu memenuhi semua kewajibannya dengan baik dengan cara-cara yang sesuai dengan peraturan perbankan yang berlaku. 

    Penelitian-penelitian terdahulu  mengenai tingkat kesehatan bank dilakukan secara empiris oleh beberapa peneliti diantaranya Indupurnahayu dan Deni Satria ( pada Bank Mandiri Tbk, tahun 2003-2004), Surifah (1990), Abdul Mongid (2000), Wilopo (2000),  Titik Aryati dan Hekinus Manao (2000), dll. Mereka melakukan penelitian terhadap kekuatan rasio keuangan model CAMEL untuk membedakan bank yang sehat dan bank yang tidak sehat serta penggunaannya sebagai alat prediksi kegagalan bank

   Seperti yang telah diuraikan  diatas bahwa usaha bank adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali pada masyarakat ini disebut dengan “Financial Intermediary“. Jadi bank benar-benar
mampu menjaga kepercayaan masyarakat baik dalam kegiatan operasional
maupaun pelayanan jasanya. Dalam rangka menuju perbankan yang sehat  dan efisien BKK sebagai salah satu perusahaan perbankan perlu segera menyesuikan diri di era deregulasi dengan menciptakan profesionalitas serta persaingan yang sehat tanpa meninggalkan rasa tanggungjawab dalam mengutamakan kepentingan masyarakat. Adapun keberadaan Bank Perkreditan Rakyat adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam bidang keuangan dengan ketentuan-ketentuan yang lebih mudah dibandingkan dengan
perusahaan perbankan.
    Dalam rangka menuju perbankan yang sehat, PD.BPR.BKK Tasikmadu Cabang Karangpandan sebagai salah satu  bank yang sampai sekarang masih eksis didalam dunia perbankan di Indonesia perlu melakukan penyesuaian diri dan menciptakan tenaga-tenaga profesional dalam persaingan yang sehat.
    Dan untuk ketentuan-ketentuan yang dilandasi oleh kewenangan untuk mengatur perbankan khususnya BPR dimaksudkan untuk memberikan pedoman kepada bank bagaimana melaksanakan kegiatan bank atas dasar azasazas perbankan yang sehat, sehingga bank mampu beroperasi lebih profesional dan efisien.
    Demi menjaga perkembangan usahanya didalam persaingan yang semakin ketat serta menanggapi akan kebutuhan masyarakat, maka pihak 5 manajemen Bank Perkreditan Rakyat berusaha mengelola dana agar
beroperasional dengan baik. Penerapan manajemen Bank Perkreditan Rakyat yang semakin profesional menjadi lebih efektif dan efisien.
    Dari uraian tersebut diatas terlihat bahwa metode CAMEL merupakan salah satu faktor untuk melihat kondisi serta tingkat kesehatan bank, oleh karena itu penulis tertarik untuk mengadakan penelitian mengenai analisis tingkat kesehatan bank dengan menggunakan data laporan keuangan pada PD.BPR.BKK Tasikmadu Cabang Karangpandan. Sehingga dalam penelitian ini penulis mengambil judul “  ANALISIS PENILAIAN TINGKAT KESEHATAN BANK BERDASARKAN METODE CAMEL PADA PD. BPR. BKK TASIKMADU CABANG KARANGPANDAN“



Masalah


    Adanya bank yang dilikuidasi atau dalam kondisi bank yang tidak diperbolehkan beroperasi oleh pemerintah dikarenakan kondisi dan keadaan bank menurut penilaian BI telah membahayakan bagi kepentingan masyarakat dan perekonomian nasional khususnya pada sektor perbankan nasional. 
    Dengan kata lain, bahwa bank yang telah beroperasi atau bahkan dicabut ijin usahanya adalah bank  yang dinyatakan tidak sehat. Sedangkan PD.BPR.BKK Tasikmadu Cabang Karangpandan perlu menerapkan prinsipprinsip kehati-hatian oleh pengelola dan pemecahan masalah segera mungkin sehingga tidak menghambat pada kegiatan lainnya. Perlunya melakukan kajian atas tingkat kesehatan bank yang dilakukan setiap saat agar kekurangan yang didapat segera diatasi serta menentukan arah untuk kemajuan bank. 
   Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka perumusan masalah adalah sebagai berikut : Bagaimana tingkat kesehatan PD.BPR.BKK Tasikmadu Cabang Karangpandan jika dinilai dengan metode CAMEL .

Tujuan penelitian
   Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kesehatan bank pada  PD.BPR.BKK Tasikmadu Cabang Karangpandan kabupaten Karanganyar

Sumber: http://etd.eprints.ums.ac.id/3104/1/B200050050.pdf


Review jurnal 1

Judul: Analisa kesehatan Bank dengan Metode CAMEL pada PT BANK RAKYAT INDONESIA
Pengarang: Yaumil Shasha, 2010
Tema: Analisa Kesehatan Bank dengan metode Camel

Latar Belakang masalah

Bank merupakan suatu lembaga keuangan yang berfungsi sebagai perantara dalam menyalurkan dana dari pihak yang kelebihan dan (surplus) kepada pihak yang membutuhkan dan kekurangan dana (unit defisit) jadi bank merupakan lembaga intermediary atau perantara penyalur dana.

Bank juga merupakan alternatif pilihan masyarakat dalam menyimpan uangnya karena bank merupakan tempat yang aman dan terpercaya sebagai lembaga yang menyediakan fasilitas yang memadai dalam pengelolaan dan penempatan dana.

Oleh karena itu, diperlukan faktor ‘kepercayaan’ dari masyarakat, karena banyaknya bank yang dilikuidasi membuat masyarakat harus cermat dalam memilih bank yang akan dijadikan tempat untuk menyimpan uang karena tingkat kesehatan bank merupakan faktor utama para nasabah.

Untuk mengetahui tingkat kesehatan bank dapat dilihat dari laporan keuangan yang dibuat secara periodik oleh bank tersebut. Analisis yang digunakan adalah dengan metode CAMELS.Setelah mengamati masalah yang diatas, maka dalam penulisan ilmiah ini penulis mengambil judul “ANALISIS KESEHATAN BANK DENGAN METODE CAMELS PADA PT. BANK RAKYAT INDONESIA, Tbk.”

Masalah

Masalah yang akan dibahas dalam penulisan ilmiah ini adalah bagaimana tingkat kesehatan bank yang diukur menggunakan metode CAMELS yang meliputi penilaian berdasarkan Capital (modal), Assets (Aktiva), Management, Earnings (rentabilitas), Likuiditas, dan Sensitivity to Market Risk (sensitivitas pada resiko pasar) pada Bank Rakyat Indonesia, Tbk

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui tingkat kesehatan pada Bank Rakyat Indonesia dengan melihatnya dari segi Capital (permodalan), Assets (kualitas Aktiva Produktif), Management, Earnings (rentabilitas), Likuiditas, dan Sensitivity to Market Risk (Sensitivitas terhadap Resiko Pasar)

Sumber: http://yaumilshasa.blogspot.com/2010/05/analisis-kesehatan-bank-dengan-metode.html

Selasa, 11 Oktober 2011

TUGAS SOFTSKILL STUDI KASUS SEGMENTASI PASAR DAN ANALISIS DEMOGRAFI

BAB 1
PENDAHULUAN

    Segmentasi pasar adalah sebuah metode bagaimana memandang pasar secara kreatif. Kita perlu secara kreatif mengidentifikasi dan memanfaatkan peluang yang muncul di pasar.
   
1.1 Segmentasi pasar

(1) Segmentasi dan kepuasan
    Pengelompokan inilah yang sering kita dengar sebagai segmentasi pelanggan. Segmentasi ini mutlak dilakukan secara bervariasi. Dapat di bagi beberapa segmen berdasarkan :
- letak geografis
- volume pembelian demografis
- produk yang dibeli
- sesuai kebutuhan Anda
Umumnya, tiap segmen adalah unik dan juga memberi kontribusi yang berbeda terhadap organisasi.

(2) Segmentasi dan profitabilitas

Profitabilitas adalah kemampuan perseroan untuk menghasilkan suatu keuntungan dan menyokong pertumbuhan baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Profitabilitas perseroan biasanya dilihat dari laporan laba rugi perseroan (income statement) yang menunjukkan laporan hasil kinerja perseroan.
1. Tingkatkan Efisiensi Proses Produksi
Proses produksi yang efisien akan menghasilkan penghematan. Semakin berhemat, semakin rendah pula biaya produksi. Dengan semakin rendahnya biaya produksi, maka margin keuntungan juga samakin tinggi. Terapkan prinsip-prinsip “Total Quality Management” sistem produksi Anda untuk memangkas biaya-biaya yang tidak perlu.
2. Fokus Pada “Core Business” Apakah Anda sudah mengetahui apa sebenarnya Core Business di mana Anda harus menfokuskan waktu, energi dan pikiran? Jika Anda melenceng pada hal-hal yang tidak penting, maka yang sedah Anda lakukan adalah pemborosan sumberdaya yang sangat berharga, yaitu waktu Anda.
3. Berdayakan Orang-orang Yang Berdedikasi Melalui Kepemimpinan
Manusia adalah sumberdaya terpenting dalam organisasi Anda. Semakin tinggi tingkat penghargaan Anda pada aspek manusia, semaking tinggi pula tingkat kemampuan untuk menciptakan keberhasilan organisasi. Dengan menerapkan prinsip-prinsip kepemimpinan organisasi yang efektif, Anda akan mampu membawa organisasi Anda ke level yang lebih tinggi dan dengan tingkat profitabilitas yang tinggi pula.
4. Pertajam Kecerdasan Organisasi
Apakah organisasi Anda merupakan organisasi yang cerdas? Semakin cerdas organisasi, semakin tinggi pula kemampuan organisasi Anda dalam menavigasikan diri ke arah masa depan yang lebih baik. Seberapa sering Anda memberikan pelatihan-pelatihan berkualitas bagi para karyawan untuk mempertajam kemampuan mereka dalam mengelola organisasi secara lebih profesional. Semakin cerdas organisasi, semakin tinggi tingkat profitabilitas perusahaan Anda.
5. Kompensasi Yang Sesuai
Manusia ingin dihargai. Jika Anda membayar lebih rendah dibandingkan kemampuan dan usaha yang sudah mereka berikan bagi organisasi Anda, mereka akan merasa dirugikan. Jika mereka merasa dirugikan, maka sebaiknya Anda jangan berharap mereka akan memberikan yang terbaik bagi organisasi Anda. Jika kita melihat negara-negara yang sistem ekonominya telah maju, kita melihat bahwa sistem kompensasi yang diterapkan merefleksikan kinerja.

(3) Penggunaan segmentasi dalam strategi pemasaran

Idealnya, segmen pasar yang baik memenuhi keriteria berikut:
1. Serupa di dalam
Pelanggan dalam segmen pasar sebaiknya se-serupa mungkin berkenaan dengan respon mereka terhadap variabel padua pemasaran dan dimensi segmentasi mereka.
2. Berbeda di antara;
Pelanggan dalam segmen berbeda sebaiknya se-berbeda mungkin berkenaan dengan respon mereka terhadap variabel padua pemasaran dan dimensi segmentasi mereka.
3. Substansial
Segmen harus cukup besar supaya menguntungkan.
4. Operasional
Dimensi-dimensi segmentasi harus berguna untuk identifikasi pelanggan dan menentukan variabel paduan pemasaran.


1.2 Rencana perubahan

(1) Analisis konsumen dan kebijakan social

Analisis konsumen berguna untuk melihat bagaimana konsumen mengambil keputusan dan peran pemasaran di dalamnya.

Pengambilan Keputusan Konsumen
Proses pengambilan keputusan yang dilakukan seseorang mengalami berbagai pentahapan sebagai berikut:
1. Analisis Kebutuhan. Konsumen merasa bahwa dia membutuhkan sesuatu untuk memenuhi keinginannya. Kebutuhan itu bisa dibangkitkan oleh dirinya sendiri ataupun stimulus eksternal. Stimulus bisa melalui lingkungan bergaul, sesuatu yang dilihat, ataupun dari komunikasi produk atau jasa perusahaan lewat media massa, brosur, dan lain-lain.
2. Pencarian Informasi. Setelah kebutuhan itu dirasakan, konsumen kemudian mencari produk ataupun jasa yang bisa memenuhi kebutuhannya.
3. Evaluasi Alternatif. Konsumen kemudian mengadakan evaluasi terhadap berbagai alternatif yang tersedia mulai dari keuntungan dan manfaat yang dia peroleh dibandingkan biaya yang harus ia keluarkan.
4. Keputusan Pembelian. Konsumen memutuskan untuk membeli merek tertentu dengan harga tertentu, warna tertentu.
5. Sikap Paska Pembelian. Sikap paska pembelian menyangkut sikap konsumen setelah membeli produk ataupun mengkonsumsi suatu jasa. Apakah dia akan puas dan terpenuhi kebutuhannya dengan produk atau jasa tersebut atau tidak.

Analisis Kebijakan Sosial
  Analisis kebijakan sosial adalah usaha terencana yang berkaitan dengan pemberian penjelasan (explanation) dan preskripsi atau rekomendasi (prescription or recommendation) terhadap konsekuensi-konsekuensi kebijakan sosial yang telah diterapkan. Penelaahan terhadap kebijakan sosial tersebut didasari oleh oleh prinsip-prinsip umum yang dibuat berdasarkan pilihan-pilihan tindakan sebagai berikut:
1. Penelitian dan rasionalisasi yang dilakukan untuk menjamin keilmiahan dari analisis yang dilakukan.
2. Orientasi nilai yang dijadikan patokan atau kriteria untuk menilai kebijakan sosial tersebut berdasarkan nilai benar dan salah.
3. Pertimbangan politik yang umumnya dijadikan landasan untuk menjamin keamanan dan stabilitas.

(2) Perubahan struktur pasar konsumen

Struktur Pasar Konsumen – Persaingan Sempurna, Monopolistik, Oligopoli dan Monopoli :
1. Pasar Persaingan Sempurna
Jenis pasar persaingan sempurna terjadi ketika jumlah produsen sangat banyak sekali dengan memproduksi produk yang sejenis dan mirip dengan jumlah konsumen yang banyak. Contoh produknya adalah seperti beras, gandum, batubara, kentang, dan lain-lain.
Sifat-sifat pasar persaingan sempurna :
- Jumlah penjual dan pembeli banyak
- Barang yang dijual sejenis, serupa dan mirip satu sama lain
- Penjual bersifat pengambil harga (price taker)
- Harga ditentukan mekanisme pasar permintaan dan penawaran (demand and supply)
- Posisi tawar konsumen kuat
- Sulit memperoleh keuntungan di atas rata-rata
- Sensitif terhadap perubahan harga
- Mudah untuk masuk dan keluar dari pasar

2. Pasar Monopolistik
Struktur pasar monopolistik terjadi manakala jumlah produsen atau penjual banyak dengan produk yang serupa/sejenis, namun di mana konsumen produk tersebut berbeda-beda antara produsen yang satu dengan yang lain. Contoh produknya adalah seperti makanan ringan (snack), nasi goreng, pulpen, buku, dan sebagainya. Sifat-sifat pasar monopolistik :
- Untuk unggul diperlukan keunggulan bersaing yang berbeda
- Mirip dengan pasar persaingan sempurna
- Brand yang menjadi ciri khas produk berbeda-beda
- Produsen atau penjual hanya memiliki sedikit kekuatan merubah harga
- Relatif mudah keluar masuk pasar

3. Pasar Oligopoli
Pasar oligopoli adalah suatu bentuk persaingan pasar yang didominasi oleh beberapa produsen atau penjual dalam satu wilayah area. Contoh industri yang termasuk oligopoli adalah industri semen di Indonesia, industri mobil di Amerika Serikat, dan sebagainya. Sifat-sifat pasar oligopoli :
- Harga produk yang dijual relatif sama
- Pembedaan produk yang unggul merupakan kunci sukses
- Sulit masuk ke pasar karena butuh sumber daya yang besar
- Perubahan harga akan diikuti perusahaan lain

4. Pasar Monopoli
Pasar monopoli akan terjadi jika di dalam pasar konsumen hanya terdiri dari satu produsen atau penjual. Contohnya seperti microsoft windows, perusahaan listrik negara (pln), perusahaan kereta api (perumka), dan lain sebagainya. Sifat-sifat pasar monopoli :
- Hanya terdapat satu penjual atau produsen
- Harga dan jumlah kuantitas produk yang ditawarkan dikuasai oleh perusahaan monopoli

BAB 2
PEMBAHASAN
Contoh Kasus : ANALISIS PERSAINGAN PRODUK SEPEDA MOTOR BERDASARKAN SEGMEN PASAR DAN POSISI PRODUK

     Dewasa ini industri otomotif Indonesia khususnya industri sepeda motor sedang mengalami perkembangan yang sangat pesat.

    Di antara produk sepeda motor, jenis motor bebek 4 langkah dengan kapasitas 100–110cc merupakan produk yang digemari oleh konsumen.

   Adanya persaingan yang ketat diantara merek-merek sepeda motor bebek 4 langkah 100 110 cc, mengharuskan produsen sepeda motor tersebut memiliki strategi pemasaran yang tepat dalam menghadapi pesaing-pesaingnya. Strategi pemasaran dapat ditentukan setelah produsen mengetahui segmen dan posisi sepeda motor yang diproduksinya.

   Segmentasi pasar dan positioning produk merupakan langkah yang diambil oleh perusahaan dalam menentukan sasaran pasar. Segmentasi pasar adalah kegiatan membagi-bagi pasar suatu produk yang bersifat heterogen ke dalam satuan-satuan pasar (segmen pasar) yang bersifat homogeny.
Yang dimaksud dengan penempatan atau positioning adalah tindakan merancang produk dan bauran pemasaran agar tercipta kesan tertentu di ingatan konsumen

     Dari 8 merek sepeda motor yang diajukan pada kuesioner pendahuluan, lima merek sepeda motor dipilih oleh sebagian besar responden (> 50 %), yaitu Honda (Supra X-treme), Yamaha (Vega), Suzuki (Shogun cakram), Jialing (Safari JL 100), dan Kawasaki (Kaze). Sedangkan atribut yang dipilih oleh sebagian besar responden (> 60 %), adalah: harga produk baru, ketersediaan dan harga suku cadang, harga jual produk setelah dipakai (bekas), konsumsi bahan bakar, dan model.
    
    Kuesioner selanjutnya mengarah ke segmentasi dan positioning produk, yang telah dipilih responden. Terdapat 140 kuesioner yang disebarkan terhadap segmen konsumen secara proporsional. Dari kuesioner yang disebarkan, sebanyak 120 diantaranya dinyatakan sah (88%),dan 16 kuesioner tidak sah (12%). Dengan tingkat kepercayaan 95% dan tingkat keyakinan 5% maka jumlah sampel minimum yang harus diambil (n) adalah sebanyak 83 lembar. Dengan demikian jumlah sampel dinyatakan mencukupi

BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

    Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa terdapat 4 segmen pasar produk sepeda motor Kaze, Jialing, Vega, Shogun, dan Supra dimana masing-masing segmen memiliki prioritas atribut tertentu. Segmen 1, yaitu 25% luas pasar, memprioritaskan atribut harga produk bekas dan ketersediaan suku cadang. Segmen 2, yaitu 25% luas pasar, memprioritaskan konsumsi bahan bakar dan ketersediaan dan harga suku cadang sebagai 2 atribut utama. Segmen 3, sebesar 33,30% luas pasar, memprioritaskan harga produk baru dan model sebagai 2 atribut utama. Sedangkan segmen 4, yaitu 16,70% luas pasar, memprioritaskan model dan konsumsi bahan bakar sebagai 2 atribut utama. Berdasarkan analisis vektor atribut maka, Supra merupakan produk unggulan yang dipilih konsumen karena konsumsi bahan bakarnya irit, harga produk bekas yang tidak jatuh, dan modelnya yang disukai. Jialing diminati konsumen karena harga produk barunya yang relatif murah. Sedangkan Kaze diminati konsumen karena alasan ketersediaan dan harga suku cadang.

3.2 Saran

a. Pada penelitian ini merek-merek yang diteliti masih terbatas, untuk penelitian selanjutnya perlu diteliti merek-merek lain (terutama dengan semakin banyaknya merek-merek sepeda motor bebek 4 langkah 100–110 cc dari Cina).
b. Atribut-atribut yang diteliti pada penelitian ini masih terbatas, untuk penelitian selanjutnya perlu diteliti atribut-atribut lain (yang dapat digunakan untuk mensegmentasikan pasar), agardiperoleh pemahaman struktur segmen yang lebih baik.
c. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi produsen sepeda motor dalam menentukan strategi pemasarannya sehingga mmperoleh laba penjualan yang relative lebih besar

FERDIANSANI IRAWAN
3EA11
16209459